Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan
cara menghitung molaritas dan contoh soal

cara menghitung molaritas dan contoh soal


Molaritas adalah satuan konsentrasi yang mengukur jumlah mol zat terlarut per liter larutan. Strategi untuk memecahkan masalah molaritas cukup sederhana. Ini menguraikan metode langsung untuk menghitung molaritas larutan.

Kunci untuk menghitung molaritas adalah mengingat unit molaritas: mol per liter. Tentukan jumlah mol zat terlarut yang dilarutkan dalam liter larutan.




Contoh Perhitungan Molaritas
Ambil contoh berikut ini:

Hitung molaritas larutan yang dibuat dengan melarutkan 23,7 gram KMnO4 ke dalam air yang cukup untuk menghasilkan 750 mL larutan.

Penyelesaian :

dalam contoh ini tidak diketahui jumlah mol yang dibutuhkan untuk menemukan molaritas. Temukan jumlah mol zat terlarut terlebih dahulu.

Untuk mengubah gram menjadi mol, massa molar zat terlarut diperlukan. Dari tabel periodik:

Massa molar K = 39,1 g
Massa molar Mn = 54,9 g
Massa molar O = 16,0 g

Massa molar KMnO4 = 39,1 g + 54,9 g + (16,0 g x 4)

Massa molar KMnO4 = 158,0 g

Gunakan nomor ini untuk mencari mol
mol KMnO4 = 23,7 g KMnO4 x (1 mol KMnO4 / 158 gram KMnO4)
mol KMnO4 = 0,15 mol KMnO4

Sekarang dibutuhkan solusi. Perlu diingat, ini adalah total volume larutan, bukan volume pelarut yang digunakan untuk melarutkan zat terlarut. Contoh ini disiapkan dengan 'cukup air' untuk menghasilkan 750 mL larutan.

Konversikan 750 mL ke liter.

Liter larutan = mL larutan x (1 L / 1000 mL)
Liter larutan = 750 mL x (1 L / 1000 mL)
Liter larutan = 0,75 L

untuk menghitung molaritas.

Molaritas = mol larutan  / Liter
Molaritas = 0,15 mol larutan KMnO4 / 0.75 L
Molaritas = 0,20 M

Molaritas larutan ini adalah 0,20 M.

Quick Review Cara Menghitung Molaritas
Untuk menghitung molaritas

Tentukan jumlah mol zat terlarut yang terlarut dalam larutan.
Carilah volume larutan dalam liter.
Bagi mol larutan terlarut dengan larutan liter.

Pastikan untuk menggunakan jumlah angka signifikan yang benar saat melaporkan jawaban Anda. Salah satu cara mudah untuk melacak jumlah digit yang signifikan adalah menulis semua nomor anda dalam notasi ilmiah.

Apakah artikel ini membantu?
Sistem Periodik dan Perkembangan Sistem Periodik

Sistem Periodik dan Perkembangan Sistem Periodik

A. PERKEMBANGAN SISTEM PERIODIK

     Klasifikasi unsur kimia disusun didalam tabel sistem periodik. Tabel periodik modern merupakan hasil perkembangan dari unsur-unsur baru dalam kimia. Dan merupakan hasil perkembangan dari tabel periodik menurut Lavoiser sampai tabel periodik menurut seaborg.
Klasifikasi Unsur menurut ahli:
1. Klasifikasi unsur menurut Lavoiser
    Pada Tahun 1869, seorang kimiawan terkenal dari perancis, menyatakan unsur sebagai zat atau senyawa yang tidak bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil atau simpel. Lavoiser mengelompokkan unsur dalam bentuk gas, non-logam, logam dan tanah.
a.  Gas 
  • Cahaya
  • Oksigen
  • Klorin
  • Nitrogen
  • Hidrogen
b.  Non logam
  • Sulfur
  • Posfor
  • Carbon
  • Asam klorida
  • Asam Florida
  • Asam boric
c.  Logam
  • Antimon
  • Arsen
  • Kobalt
  • Timah
  • Tungsten
  • Platina
  • Nikel
  • Besi perak
  • Emas
  • Mangan
  • Molibdenum
  • Zinc
  • Merkuri
  • Bismuth
  • Tembaga
d.  Tanah
  • Silika
  • Magnesia
  • Alumina
  • Kapur
  • Barit

2.  Klasifikasi Unsur menurut Dobereiner
     Johan Wolfgang Dobereiner adalah seorang ilmuwan jerman, dia memiliki pendapat yang berbeda tentang unsur dengan pendapat Lavoiser. Dobereiner mengelompokkan 3 unsur dengan sifat yang sama dalam datu kelompok berdasarkan peningkatan massa atom. Dia mengusulkan unsur yang berada ditengah memiliki jumlah massa atom yang sama dengan jumlah massa atom pertama dan massa atom ketiga. Dia juga mengusulkan bahwa unsur yang berada ditengah memiliki sifat yang berbeda dengan dua unsur lainnya. itulah sebabnya pengelompokan ini disebut Law of Triad

Unsur
Massa atom
Massa atom rata-rata
Lithium (Li)
Natrium (Na)
7
23
Kalium (K)
Klorin (Cl)
Bromin (Br)
39
35,5
81,25
Iodin (I)
Kalsium (Ca)
Stronsium (Sr)
Barium (Ba)
127,0
40,1
88,7
137,3

3.  Klasifikasi Chancourtois

     Chancourtois adalah seorang ahli geologis berkebangsaan perancis, beliau mengklasifikasikan unsur berdasarkan massa atomnya. Penyusunan ini membentuk spiral. Unsur dengan sifat yang sama berada di kolom yang sama. Perbedaan massa atom antara unsur yang serupa adalah 16. Sebagai contohnya, Litium dan sodium memiliki massa atom 7 dan 23, yang mana memiliki selisih 16. berikut ini adalah rumus, persamaan massa atom:
Massa atom = 7 + 16n
n = order of element

4.  Hukum Oktaf
     John Alexander Reina Newland terkenal dengan Hukum Oktafnya. Beliau mengatur unsur berdasarkan kenaikan massa atom relatif. beliau menemukan bahwa terdapat perbedaan hubungan sifat unsur dan massa atomnya. Jika unsur dikelompokkan berdasarkan kenaikan massa atomnya, maka sifat dari unsur akan terulang dan sama setelah unsur yang kedelapan (oktaf). Oleh karena itu, sifat unsur pertama dan unsur yang kedelapan akan sama

H 1
F 8
Cl 15
Co/Ni 22
Br 29
Pd 36
I 42
Pt/Ir 50
Li 2
Na 9
K 16
Cu 23
Rb 30
Ag 37
Cs 44
Tl 53
G 3
Mg 10
Ca 17
Zn 25
Sr 31
Cd 38
Ba/V 45
Pb 54
Bo 4
Al 11
Cr 18
Y 24
Ce/Le 33
U 40
Ta 46
Th 56
C 5
Si 12
Ti 19
Ln 26
Zr 32
Sn 39
W 47
Hg 52
N 6
P 13
Mn 20
As 27
Di/mo 34
Sb 41
Nb 48
Bi 55
O 7
S 14
Fe 21
Se 28
Ro/Ru 35
Te 43
Au 49
Os 51


5.  Klasifikasi Unsur Menurut Mendeleev
     Apresiasi yang besar patut diberikan untuk Dimitri Ivanovich Mendeleev, atas pengelompokan unsur kimia yang dikemukakan beliau, Tabel periodik yang dibuat oleh ilmuwan rusia ini merupakan tabel yang kita gunakan sampai saat ini. Mendeleev mengelompokkan unsur dalam tabel berdasarkan berat atom, sesuai dengan massa molar relatif.

6.  Tabel Periodik Meyer
     Lothar Meyer melakukan penelitian tentang tabel periodik. Hasil penelitiannya dipublikasikan 5 tahun sebelum penelitian mendeleev, yaitu pada tahun 1864. akan tetapi, beberapa sejarawan memberikan penghargaan terhadap meyer sebagai penemu sistem periodik yang setara dengan mendeleev.
     Dalam tabel periodik, Meyer mengelompokkan unsur berdasarkan hubungan berat atom dan volume. Tabel periodik Meyer hanya menyertakan 28 unsur dan unsur tersebut tidak dikelompokkan berdasarkan berat atom akan tetapi berdasarkan valensinya.

7.  Tabel Periodik Moseley
     Setelah penemuan Rutherford mengenai proton dan inti atom tepatnya pada tahun 1914, Henry Moseley menemukan hubungan antara Panjang gelombang X-ray unsur dan nomor atom (Z). Kemudian beliau menyusun kembali tabel periodik berdasarkan muatan inti atomnya dan bukan berdasarkan massa atomnya. Sebelum penemuannya, nomor atom dianggap tidak sepenting massa atom.

8.  Tabel Periodik Seaborg
     Pada tahun 1943, seorang ilmuwan asal Amerika yang bernama Glenn T. Seaborg melakukan sebuah eksperimen dimana beliau kesulitan mengisolasi americum (95) dan Curium (96). Beliau memulai dengan pengamatan pada kelompok aktinida. Konsep aktinida Seaborg tentang struktur unsur berat, dan juga meramalkan golongan aktinida yang memberntuk suatu golongan transisi yang terdiri atas unsur yang langkah di bumi.


Reaksi Uji Lipid dan Penentuan Bilangan Iodium

Reaksi Uji Lipid dan Penentuan Bilangan Iodium

Reaksi Uji Lipid dan Penentuan Bilangan Iodium

Lipid adalah kelompok molekul alami yang meliputi lemak, lilin, sterol, vitamin yang larut dalam lemak (seperti vitamin A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, trigliserida, fosfolipid, dan lain-lain. Fungsi biologis utama lipid termasuk menyimpan energi, pensinyalan, dan bertindak sebagai komponen pembangun membran sel. Lipid memiliki aplikasi dalam industri kosmetik dan makanan serta dalam nano teknologi

Lipid dapat didefinisakan secara luas sebagai molekul kecil hidrofobik atau amfifilik. Sifat amfifilik beberapa lipid memungkinkan mereka unutk membentuk struktur seperti vesikel, liposom multilameral, atau membran dalam lingkungan akuatik. Lipid biologis berasal, seluruhnya atau sebagian, dari ketoasil dan isoprema. Dengan menggunakan pendekatan ini, lipid dapat dibagi menjadi delapan kategori : asam lemak, gliserolipid, gliserofosfolipid, spingolipid, sakarolipid, dan poliketida (diturunkan dari kondensasi subunit ketoasil) dan lipid sterol serta lipid prenol (berasal dari kondensasi subunit isoprena).

Meskipun kadang-kadang digunakan sebagai anonim untuk lemak, lemak adalah sekelompok lipid yang disebut trigliserida. Lipid juga mencakup molekul seperti asam lemak dan turunnya (termasuk tri-, di-, monogliserida, dan fosfolipid), serta metabolit lainnya yang mengandung sterol dan kolesterol. Meskipun manusia dan mamalia lainnya menggunakan berbagai jalur biosintesis untuk memecah dan mensintesis lipid, beberapa lipid esensial tidak dapat dibuat dengan cara ini dan harus diperoleh dari makanan.
Terdapat berbagai macam uji yang berkaitan dengan lipid yang meliputi analisis kualitatif maupun kuantitatif. Uji-uji kualitatif lipid diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Uji kelarutan lipid. Uji ini terdiri atas analisis kelarutan lipid maupun derivat lipid terhadap berbagai macam pelarut.
  • Uji Acrolein. Dalam uji ini terjadi dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak menghasilkan aldehid atau krolem.
  • Uji kejenuhan pada lipid. Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi iod
  • Uji ketengikan, Dalam uji ini, diidentifikasikan lipid mana yang sudah tengik dengan yang belum tengik yang disebabkan oksidasi lipid.
  • Uji salkowski untuk kolesterol, Uji salkowski merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasikan keberadaan kolesterol.
  • Uji Lieberman Buchard, Merupakan uji kuantitatif untuk kolesterol. Prinsip uji ini adalah mengidentifikasi adanya kolesterol dengan penambahan asam sulfat ke dalam campuran.
  • Uji bilangan Iodium, Lipid mengandung bermacam-macam asam lemak tak jenuh yang bereaksi dengan ion. Jumlah iod yang diabsorbsi menentukan jumlah ketidakjenuhan dalam lipid. Jadi angka iod didefinisikan sebagai berikut, banyaknya asam oleh 100 gram lipid
Dua metode yang umumnya dipakai yaitu metode Hanus yang memakai iodin bromida sebagai carrier dan metode, Wijs yang memakai iodin klorida. Bilangan iodin menyatakan derajat ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak. Asam lemak tidak jenuh mampu mengikat iodium untuk membentuk senyawa yang jenuh. Banyaknya iodium yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap dimana asam lemak tidak jenuh mampu mengikat iodium dan membentuk senyawa jenuh. Iodium akan mengadisi ikatan asam lemak tidak jenuh meupun dalam bentuk ester. Bilangan iodium tergantung pada jumlah asam lemak tidak jenuh dan lemak. Semakin banyak jumlah asam lemak tidak jenuh dalam minyak maka semakin tinggi pula bilangan iodium yang dikandung oleh minyak tersebut.


Angka asam pada munyak dan lemak menunjukkan kandungan asam lemak bebas yang mempengaruhi kualitas minyak dan lemak. Angka asam yang tinggi pada munyak jelantah diakibatkan oleh proses hidrolisis yang terjadi selama proses penggorengan yang biasanya dilakukan pada suhu 160-200 derajat celcius.
Laju Inversi Gula

Laju Inversi Gula

laju inversi gula
Laju inversi gula adalah laju reaksi hidrolisa sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa. Inversi gula ini terjadi saat sukrosa dihidrolisis dengan bantuan asam. Sukrosa atau yang lebih dikenal dengan gula tebu dapat terhidrolisis dengan bantuan asam atau enzim menghasilkan fruktosa dan glukosa yang sama banyaknya jumlahnya. Proses hidrolisis ini disebut inversi. Campuran fruktosa dan glukosa yang sama banyak disebut gula inversi


Gula invert adalah gula yang mengandung glukosa dan fruktosa dengan jumlah sama (equimolar) yang banyak digunakan dalam industri pangan dan farmasi. Dalam industri pangan gula invert digunakan sebagai pemanis, pemberi aroma dan pengawet olahan pangan. Sedangkan dalam industri farmasi, gula invert digunakan sebagai pemanis pada obat bentuk sirup. Gula invert dihasilkan dari hidrolisis sukrosa baik secara enzimatik menghasilkan gula invert yang jernih dan bermutu tinggi, tetapi proses produksinya memerlukan biaya yang tinggi karena harga enzim mahal



Reagen selliwanof adalah reagen yang digunakan untuk menandai atau mengidentifikasi adanya fruktosa dalam larutan. Reagen selliwanof dibuat dengan mereaksikan resinol yang dilarutkan dalam asam klorida dan akuades. Pembuatan reagen ini dilakukan dengan cepat segera, karena sifat dari reagen ini yang mudah teroksidasi dengan udara, sehingga dikhawatirkan reagen yang digunakan akan rusak yang tentunya akan mempengaruhi reaksi yang akan dihasilkan . Ketika larutan fruktosa direaksikan dengan asam klorida dan reagen selliwanof dan dilakukan pemanasan, maka akan terjadi perubahan warna larutan yang semula tidak berwarna menjadi berwarna. Warna ini dihasilkan dari reaksi fruktosa dan reagen selliwanof.



Katalisa asam HCL merupakan katalis homogen, yaitu katalis yang mempunyai fasa yang sama dengan fasa reaktan atau pereduksi dalam larutan. Spektofotometri adalah metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahayaa. Padatan yang digunakan dalam spektofotometri disebut spektofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya vesibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron valensi.



Spektofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur identitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Sukrosa sebagai zat optis aktif, memutar bidang polarisasi cahaya ke kanan (dextrorotatory). Tetapi bila dilakukan dalam air, pemutaran ke kanan akan berkurang dan akhirnya sedikit memutar bidang polarisasi cahaya ke kiri. Proses ini dikenal sebagai inversi, yaitu reaksi hidrolisa sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Fruktosa lebih kuat reveroratory daripada glukosa dextroratory. Bila reaksi dikatalisa oleh ion H. Waktu paruh akan menjadi lebih pendek, reaksi menjadi lebih cepat.



Metode Guggenhein digunakan untuk menentukan tetapan hukum laju reaksi dengan mengukur sudut pemutaran bidang polarisasi pada waktu-waktu tertentu. 



Gula invert merupakan produk hasil pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dengan perbandingan 1:1. Produksi gula inversi secara industri biasanya berdasarkan pada hidrolisa asam atau enzim. Pada proses hidrolisa asam tergantung dari jenis asam, yaitu asam anorganik yang berupa asam kuat dan organik yang berupa asam lemah. Gula invert merupakan komponen makanan yang bermanfaat, terutama sifatnya yang lebih manis dan lebih cepat larut apabila dibandingkan dengan butiran sukrosa. Sifat lain yang menguntungkan dari gula invert adalah dapat berfungsi sebagai humectant (dapat mempertahankan kadar air), penstabil emulsi, pengawet dan memiliki rasa yang lebih halus sehingga tidak menimbulkan iritasi. Gula invert merupakan komponen makanan yang sangat bermanfaat, terutama sifatnya yang lebih manis dan lebih cepat larut apabila dibandingkan butiran sukrosa. Gula invert juga digunakan untuk memperlambat kristalisasi gula pada konsentrasi larutan yang tinggi. Biasanya digunakan dalam krim non kristal, selai, madu buatan dan industri permen serta industri yang hanya memproduksi larutan gula.
Penentuan Energi Aktivasi

Penentuan Energi Aktivasi

Energi aktivasi adalah energi minimum yang dibutuhkan oleh suatu reaksi kimia agar dapat berlangsung. Energi aktivasi memiliki simbol Ea dengan E menotasikan energi dan a yang ditulis subscribe menotasikan aktivasi. Kata aktivasi memiliki makna bahwa suatu reaksi kimia membutuhkan tambahan energi untuk dapat berlangsung. Dalam reaksi endoterm, energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan dan sebagainya disuplai dari luar sistem. Pada reaksi eksoterm, yang membebaskan energi, ternyata juga membutuhkan suplai energi dari luar untuk mengaktifkan reaksi tersebut. 

Dalam kinetika, suatu reaksi berlangsung melalui beberapa tahap, diawali dengan tumbukan antara partikel reaktan. Setelah reaktan bertumbukan, maka terjadi penyusunan ulang ikatan dalam senyawa reaktan menjadi susunan ikatan yang berbeda (membentuk senyawa produk). Dalam penyusunan ini, akan ada pemutusan ikatan dan pembentukan ikatan baru, yang membutuhkan sejumlah energi. Ketika beberapa ikatan reaktan terputus dan beberapa ikatan baru terbentuk, tercapailah suatu keadaan dimana dalam sistem terdapat sejumlah reaktan dan produk, keadaan ini kita sebut sebagai transisi kompleks

Dalam keadaan transisi kompleks, memiliki campuran antara produk dan reaktan yang cenderung kurang stabil, karena produk yang terbentuk dapat membentuk rekatan kembali. Keadaan ini membentuk energi yang cukup tinggi, karena sistem tidak stabil

Proses untuk mencapai keadaan transisi kompleks membutuhkan energi yang disuplai dari luar sistem. Energi inilah yang disebut energi aktivasi. Pada reaksi endoterm, maupun eksoterm keduanya memiliki energi aktivasi yang positif, karena keadaan transisi kompleks memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dari reaktan.

Pada tahun 1889 Arhenius mengusulkan sebuah persamaan yang menggambarkan pengaruh suhu terhadap konstanta laju reaksi . Persamaan yang diusulkan adalh 
K= Konstanta laju raksi
A= Faktor frekuensi
Ea= Energi aktivasi
Persamaan tersebut dalam bentuk logaritma dapat ditulis :

Beberapa faktor yang mempengaruhi energi aktivasi adalah sebagai berikut :
  1. Suhu, Fraksi molekul-molekul mampu untuk bereaksi dua kali lipat dengan peningkatan suhu 20 derajat. Hal ini menyebabkan laju reaksi bersifat ganda
  2. Faktor frekuensi, dalam persamaan ini, kurang lebih konstan untuk perubahan suhu kecil. Perlu dilihat bagaimana perubahan energi dan fraksi molekul sama atau lebih dari energi aktivasi
  3. Katalis, katalis akan menyediakan rute agar reaksi berlangsung dengan energi aktivasi yang lebih rendah 

HOODLES

Gumbo beet greens corn soko endive gumbo gourd. Parsley shallot courgette tatsoi pea sprouts fava bean collard greens dandelion.

JACKETS & SUIT

Gumbo beet greens corn soko endive gumbo gourd. Parsley shallot courgette tatsoi pea sprouts fava bean collard greens dandelion.

SPORT SHOES

Gumbo beet greens corn soko endive gumbo gourd. Parsley shallot courgette tatsoi pea sprouts fava bean collard greens dandelion.

 
Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates